RSS

>Sesuatu yang Orang-orang Sebut “Untuk Cinta”….

20 Sep

>

Pagi ini tiba-tiba saya teringat akan sebuah cerita. Cerita singkat yang pernah tertulis dengan indahnya di sebuah buku yang pernah saya baca. Alkisah ada seorang saudagar kaya yang hidup di zaman ratu balqis (saat zaman nabi sulaiman). Seperti kebanyakan laki-laki di zaman itu, maka sang saudagar juga tergila-gila akan kecantikan sang ratu. Halusnya budi sang ratu, kemolekan tubuhnya, wajahnya yang bagaikan pualam, dan tutur bahasa yang lembut membawa kesejukan seakan menyihir sang saudagar. Semakin hari sang saudagar semakin memuja sang ratu, kehilangan selera makan, sibuk melamun. Duhai, sungguh indah nian yang dinamakan cinta bagi sang saudagar.

Akhirnya, sang saudagar (seperti kebanyakan para pecinta lainnya) bertindak nekat dan memutuskan untuk menghadap sang ratu. Tanpa memikirkan resiko apapun yang bisa saja menimpanya (bagaimana pula sang saudagar sanggup mengingat dan memikirkan resiko, pada saat segenap jiwa dan akal pikirannya hanya terikat oleh bayang-bayang sang ratu?). Dengan membawa hampir keseluruhan harta benda yang dimilikinya, menyiapkan puisi-puisi terbaik yang mampu dibuatnya sang saudagar pun berangkat untuk menghadap sang ratu di istana megah miliknya dengan satu pikiran “akan kupersembahkan segalanya kepada sang ratu, semoga saja aku terpilih untuk menjadi kekasih hatinya”. Sungguh cinta itu benar-benar buta dan membutakan orang-orang yang terkena sihirnya.

Setelah menempuh berbagai birokrasi kerajaan, melewati berpuluh-puluh pemeriksaan penjaga yang melelahkan. Maka sang saudagar pun diperintahkan untuk masuk ke suatu ruangan. Megah, luas, dipenuhi hiasan, dan ditumbuhi oleh bunga-bunga nan cantik rupawan. ruangan itu indah tak terperikan. Terkagum-kagum sang saudagar melangkah keruangan tersebut, sibuk berfikir “duhai, kemanakah sang kekasih hatiku berada?”. Sang saudagar akhirnya menemukan sang ratu di tengah ruangan tersebut. Duduk masygul di singgasananya diapit oleh dua penjaga. Demi melihat sang ratu, maka sempurna pula sang saudagar langsung bersimpuh terduduk. Terkulai lemas tak berdaya menghadapi pesona sang ratu. Kemudian mengeluarkan beberapa patah kata dari mulutnya “sang ratu, inilah hamba. Seorang saudagar dari tanah seberang. Membawa seluruh hartanya, seluruh jiwa dan raganya untuk mempersembahkan cintanya kepada engkau sang ratu”.

Tertegun sang ratu balqis mendengar kata-kata tersebut, dan akhirnya bersuara. Suara lembut yang menenangkan, semakin membuat sang saudagar jatuh cinta kepada sang ratu “telah beratus-ratus pria yang datang kepadaku menyatakan cintanya. Siap memberikan segalanya sampai akhirnya bahkan tidak mempedulikan dirinya. Wahai saudagar, untuk sekali ini saja aku memerintahkan kepada mu. Pulanglah! Cintailah perempuan lain dan jangan sampai engkau menyia-nyiakan dirimu untukku”. Seusai berkata begitu, kedua penjaga sang ratu bergerak kearah sang saudagar dan menyeret paksa sang saudagar. Meninggalkan ruangan. Meninggalkan kerajaan sang ratu pujaan.

Berpuluh-puluh hari setelah kejadian itu. Sang saudagar tetap memuja sang ratu. Makanan mewah, minuman yang lezat, dayang-dayang yang jelita bahkan tidak mampu mengembalikan keceriaan sang saudagar. Ya, sang saudagar sejak hari itu terpuruk dalam cintanya. Menangis akan kemalangan nasibnya. Tapi memutuskan untuk tetap mencinta sang ratu. Keesokannya datanglah seorang wanita menemui sang saudagar. Berpakaian rombeng, berbau busuk, mukanya dipenuhi oleh jelaga hitam. Hina rupanya tetapi datang dengan membawa sepucuk surat dari kerajaan, bertuliskan tangan sang ratu lengkap dengan cap kerajaan

Isi surat tersebut bertuliskan “saudagar, apabila engkau benar-benar mencintaiku. Maka aku yakin engkau akan mematuhi apapun yang akan aku perintahkan. Perintahku cuma satu. Bawalah wanita ini keperaduanmu. Nikahi dia dengan baik. Dan perlakukan dia seakan-akan kamu meperlakukan diriku sendiri”.

Demi melihat isi surat tersebut. Sang saudagar tertegun, tak percaya dengan isi surat tersebut dan berujar dengan geramnya “ini bukanlah kehendak sang ratu, aku yakin ini hanyalah taktiknya untuk menguji diriku. Untuk melihat kesetiaanku. Untuk melihat apakah aku mampu meperlakukan wanita lain sama halnya dengan dia sang kekasih hatiku. Tidak! Aku tidak akan termakan taktik tersebut. Akan aku tunggu dan aku jaga semuanya. Kupersembahkan hanya untuk dia!”. Geram sang saudagar mendekat ke sang wanita yang hina rupanya, menjulurkan kedua tangannya hendak mendorong sang wanita sambil berujar keras “Pergi! Aku hanya mencintai sang ratu! Tidak ada ruang bagi wanita lain! Apalagi wanita yang hina seperti mu!!!”.

Sebelum tangan sang saudagar menyentuh sang wanita, muncullah dua orang penjaga, menelikung kedua tangan sang saudagar. Dan sang wanitapun mengusap mukanya, membersihkan jelaga hitam yang menempel, dan terlihatlah rupa aslinya. Ternyata sang wanita adalah sang ratu itu sendiri! Pelan sang ratu berujar, “saudagar..sekian ratus laki-laki telah datang menghadapku..menyatakan cintanya yang mereka katakan tulus hanya untukku..tau kah engkau kenapa semuanya tidak aku terima?karena mereka semua mencintai aku untuk keegosian mereka sendiri, bukan untukku. Apabila engkau benar-benar mencintai dan rela mempersembahkan segalanya untukku. Bukankah seharusnya engkau menikahi dan mematuhi surat itu?sayangnya engkau malah egois, mengatas namakan cinta untuk mendapatkan kesenanganmu sendiri. Selamat tinggal saudagar, maaf..ternyata kaupun harus aku tolak!”.

Maka pergilah sang ratu diiringi penjaganya. Meninggalkan sang saudagar yang tidak percaya. Menyesali kebodohannya. Menangis terisak karena tahu bahwa kesempatan itu hilang sudah dari pandangan.

Teman, cerita itu hanyalah sebuah perumpamaan. Perumpamaan akan banyak hal. Kisah ini bahkan terjadi pada iblis kepada tuhan. Tuhan memerintahkan sang iblis untuk bersujud kepada sang adam, tetapi iblis dengan egoisnya berkata “hamba hanya bersujud kepadamu ya tuhan, bukan kepada adam”. Dan terusirlah iblis dari surga, menyatakan perang kepada adam sampai akhir masa. Disini kita melihat hal yang sama, logika yang sama, peristiwa yang sama. Bahkan dalam kehidupan sendiri seing kita lihat. Berapa banyak anak yang mengaku mencintai orangtuanya tetapi melakukan hal-hal yang mementingkan kesenangannya sendiri padahal sang orang tua tersakiti. Berapa banyak pasangan yang mengaku mencintai pasangannya tapi bertindak kasar dan memukul pasangannya sendiri.

Kesamaannya apa?keegoisan. Satu logika yang jelas terlihat ialah, apabila kita benar-benar mencintai dan rela berkorban semua hal. Maka kenapa kita tidak bsa mengorbankan diri kita sendiri untuk hal yang kita cintai? Saat kita mengatakan mencintai tuhan tapi kenapa saat kita diminta mengorbankan diri kita sendiri tetapi kita tidak mau? bahkan nabi ibrahim pun mampu untuk mengorbankan anaknya. Sedangkan kita bahkan untuk berzakat saja terasa berat dan tak mampu. Atau hanya untuk sholat saja terasa berat untuk terbangun dikala subuh. Saat banyak orang mengatakan bahwa mereka cinta untuk mengajar dan mencerdaskan anak bangsa, tetapi kenapa orang-orang tersebut tidak mau terjun langsung kepedalaman daerah? Malah sibuk mencari selah mengajar dikota, sibuk mempertimbangkan materi dan ingin mencari mudahnya saja. Manusiawi untuk mempertimbangkan semuanya demi kenyamanan pribadi, tidak ada yang menyalahkan walaupun cinta ataupun pengorbanan itu menjadi tidak murni manakala kita tidak mampu mengorbankan diri kita sendiri, karena cinta ataupun pengorbanan itu malah berarti sesungguhnya saat kita mengorbankan diri kita sendiri.. kesenangan kita sendiri. Bahkan mengorbankan ego kita sendiri.

Saat kita mencintai sesuatu, ntah itu hal-hal ataupun makhluk tertentu. Maka saat kita mencintai sesuatu tetapi tidak bsa mengorbankan diri sendiri maka alasan sebenarnya kita mencintai hal tersebut ialah untuk ego sendiri, bukan memang krn cinta itu sendiri. Ada orang yang terperangkap dan mengaku mencintai pasangannya tetapi tidak bsa “mengorbankan” dirinya sendiri, suka memukul pasangannya, tidak bsa memperlakukan dia dengan semestinya. Maka bsa dibilang kalau cinta tersebut tidaklah ikhlas. Tidaklah tulus untuk mencintainya. Ada juga yang mengaku mencintai tuhannya, tetapi melaksanakan apapun yang diperintah_Nya sangatlah susah dan cenderung membangkang adanya. Menyumbang receh pun menjadi perkara yang susah baginya. Maka bagaimana bisa bilang cinta kepada_Nya sedangkan mengorbankan sedikit hartanya saja (sama saja dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri, walau nyata-nyatanya semua juga titipan dari_Nya..) terasa begitu susah. Pantaskah orang-orang seperti itu mengatakan cinta?

Maka sekali saja teman, tolong fikirkan hal ini. Fikirkan apa saja yang kamu nyatakan sebagai hal yang kamu cintai, dan ajukan pertanyaan kepada diri sendiri “sanggupkah kamu untuk mengorbankan, harta, waktu, ego, kesenangan, bahkan diri sendiri untuk hal-hal atau orang yang kalian cintai tersebut?”. Karena apabila teman sanggup mengorbankan semua itu, maka hal itu telah menunjukkan kualitas cinta dari teman-teman sendiri. Kualitas cinta dari apa yang sering teman banggakan, teman-teman sering nyatakan kepada semua orang. Sungguh saya sendiri pun masih harus belajar banyak untuk mencapai taraf seperti itu, taraf dimana mampu ikhlas, tidak berfikir untung lebih, mampu mengorbankan segala hal, demi hal-hal atau orang-orang yang saya cintai..

Salam,
-median-

P.S :
Cerita ini diambil dari berbagai sumber dan tertulis untuk saya dedikasikan kepada para guru yang mengajar di pedalaman daerah. Dengan gaji yang tidak seberapa. Dengan fasilitas yang sangat minim Rute yang sangat sulit dilewati bahkan bertaruh nyawa hanya demi satu tujuan, Demi cinta mereka kepada murid-murid mereka yang mau belajar. Cerita inipun saya dedikasikan juga kepada para petugas pemadam kebakaran atau sukarelawan bencana alam. Yang sama saja memiliki gaji minim, fasilitas seadanya, bahkan bertaruh nyawa untuk bahkan hanya menyelamatkan mayat saja. Dan mereka melakukannya hanya karena satu hal. Demi cinta mereka kepada sesama. Mati maupun hidup. Dan kepada semua orang yang telah mampu melakukan hal seperti itu. Sungguh kalian adalah orang-orang terpilih untuk itu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 20, 2010 in Cinta, Hikmah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: