RSS

>HAKIKAT TEMAN SEJATI

27 Sep

>


Mayoritas insan di dunia yang fana’ ini, mereka saling berkomunikasi dan berhubungan atas hajat individual, dengan artian yang satu membutuhkan yang lain, mereka berhubungan dengan akrab, rasa senang dan saling memuji agar kebutuhan masing-masing terpenuhi, dan apabila salah satu dari mereka menemukan ‘aib / cacat dari lainnya, maka bisa jadi persahabatan berbalik arah menjadi permusuhan. Inilah kenyataan/fakta yang terjadi dalam hidup kemasyarakatan dan memang sudah menjadi fitroh yang dititahkan bagi setiap insan. Hubungan antara sesama insan didasarkan atas pemenuhan hajat masing-masing.
ما صحبك إلا من صحبك وهو بعيبك عليم وليس ذلك إلا مولاك الكريم, خير من

تصحب من يطلبك لا لشيئ يعود منك إليه

“Tidak ada sahabat sejati yang ikhlas dalam persahabatan kecuali sahabat yang mau menemani kamu walaupun ia tahu akan aib/kecacatanmu dan mengampuni kamu atas dasar persahabatan yang mana ia tiada lain adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebaik-baiknya orang yang kamu temani adalah orang yang meminta bersahabat denganmu bukan karena sesuatu darimu yang bermanfaat kepadanya”.

Beliau Ibnu ‘Athoillah Rohimahullah berkata : sebaik-baiknya sahabat yang kamu gauli adalah orang yang meminta kamu untuk bersahabat denganmu untuk kemanfaatan dirimu sendiri bukan karena kemanfaatan baginya. Dan semua manusia tidak ada yang mau bersahabat denganmu dengan tanpa ingin mendapatkan kemanfaatan darimu. Hanya Allahlah yang meminta kamu dan melindungimu supaya kamu bahagia karena dekat kepada-Nya dan bisa kembali dengan agungnya nikmat serta kabaikan yang diberikan kepada kamu.

Mayoritas insan di dunia yang fana’ ini, mereka saling berkomunikasi dan berhubungan atas hajat individual, dengan artian yang satu membutuhkan yang lain, mereka berhubungan dengan akrab, rasa senang dan saling memuji agar kebutuhan masing-masing terpenuhi, dan apabila salah satu dari mereka menemukan ‘aib / cacat dari lainnya, maka bisa jadi persahabatan berbalik arah menjadi permusuhan.Inilah kenyataan/fakta yang terjadi dalam hidup kemasyarakatan / sosial dan memang sudah menjadi fitroh yang dititahkan bagi setiap insan. Hubungan antara sesama insan didasarkan atas pemenuhan hajat masing-masing.

Hajat itu sendiri ada yang berupa materi (Maddiyah) atau (spiritual) Maknawiyah. Kalaupun ada orang yang mau bersahabat dengan yang lainnya dengan tanpa menginginkan faedah atau hajat madiyah atau maknawiyah yang kembali kepadanya dan terus bersahabat walaupun ada kecacatan pada temannya maka ketahuilah bahwa itu hanyalah hayalan semu saja bukan yang sebenarnya. Tidak ada yang bersahabat denganmu dengan tanpa meminta kemanfaaatan darimu kepadanya, ia selalu memberikan kemanfaatan kepadamu, melindungimu dan menasehati terus walaupun kamu berlumuran dengan ‘aib kecuali hanya satu saja yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala.

Persabatanmu dengan-Nya tidaklah membutuhkan lebih dari dua hal, yaitu : (1) Ma’rifat (kamu mengenal-Nya) (2) Jadikanlah Ia sahabat dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya.

Dengan ini persahabatamu akan selalu memberi kemanfatan bagi dirimu sendiri. Kemudian mengenahi persahabatan dua insan yang karena Allah (ridhoNya) tidak bertemu atau berpisah kecuali karena-Nya merupakan cabang atau buah dari pada pertalian hubungan persahabatan yang sempurna dengan Allah.

Kemudian, barang kali ada beberapa kamusykilan atas hikmah ini, diantaranya :

1. Pada ibarot (خير من تصحب من يطلبك لا لشيئ يعود منك إليه) yang menjadi kemusykilan pada ta’bir tersebut adalah bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan hambaNya untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya serta melarang mereka menjalankan perkara yang dilarang, bukankah perintah / larangan yang ditujukan kepada mereka merupakan syarat terjalinnya pertemanan yang diisyarohkan oleh Ibnu ‘Athoillah dan semuanya itu akan kembali kepada Allah ?,

Sebagai jawabannya, perlu diketahui bahwa sesungguhnya berbagai macam hak-hak yang bernilai ibadah kepada Allah, sedikitpun dari itu semua tidak ada suatu kemanfaatan atau faedah yang kembali kepadaNya, akan tetapi justru kembali kepada manusia itu sendiri.

Sesungguhnya tidak ada yang bisa membersihkan manusia dari kehinaan dan kedholiman kecuali hanya Allah, maka ia harus yakin didalam menghambakan diri kepadaNya dan merasa bahwa ia adalah makhluk yang dimiliki olehNya, kemudian terus mengaplikasikan hukum-hukumnya dan tuntutan yang bersifat ibadah. Kalaupun didalam persahabatan antara hamba dan Robnya ada suatu hukum yang mengesankan sang hamba mau tidak mau harus menjalankannya, maka ketahuilah bahwa itu merupakan obat yang tidak ada gantinya untuk mengobati penyakit yang ditimbulkan dari kejelekan ihwal hamba tersebut.

Maka dari itu, semua tuntutan dari Allah pada hakikatnya akan kembali kepada hambaNya.

2. Apakah sifat persahabatan antara dua insan karena Allah (tidak bertemu atau berpisah kecuali hanya karenaNya) sama halnya sifat persahabatan antara insan dengan selain Allah sebagaimana yang dipaparkan oleh Ibnu ‘Athoillah, kalau tidak sama, kenapa beliau mengumumkan ibarot dengan qoulny (وليس ذلك إلا مولاك الكريم) yang memberi pemahaman bahwa persahabatan sejati dengan selainNya adalah suatu kebohongan?

Sebagai jawabannya, sesungguhnya persahabatan antara dua insan yang didasari karena Allah disebabkan karena masing-masing dari keduanya bisa bersahabat denganNya, dengan maksud bahwa ukhuwwah keimananlah yang mengikat persahabatan kedua insan tersebut dan ukhuwwah keimanan tersebut merupakan efek / pengaruh / buah dari mahabbah seorang hamba kepada Allah.

Dari hikmah ini, yang mengisyarohkan agar menjadikan Allah sebagai sahabat sejadi bukan berarti harus ‘uzlah, menjauhi manusia dan memutus hubungan saling menolong antar sesama. Namun hikmah ini mempunyai arti bahwa supaya hubungan antar sesama muslim atas dasar ridho Allah, mencari dan menjadikan-Nya sahabat untuk selamanya. Semua itu, berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an al karim yang berbunyi :

ذلك بأن الله مولى الذين آمنوا وأن الكافرين لا مولى لهم.

“Yang demikian itu Karena Sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan Karena Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai Pelindung”. QS.Muhammad:11

الله وليّ الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور صلى والذين كفروا أوليآؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات قلى أولئك أصحاب النار صلى هم فيها خالدون.

” Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. QS.Al Baqoroh:257

ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله صلى والذين ءامنوا أشد

حبا لله قلى ولو يرى الذين ظلموا إذ يرون العذاب أن القوة لله جميعا وأن الله شديد

العذاب.

“Dan di antara manusia ada yang menyembah tandinga-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah. dan jika orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika melihat siksaan bahwa kekuatan itu punya Allah semua dan bahwa Allah sangat pedih siksaannya.” QS. Al-Baqoroh: 165.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 27, 2010 in Hikmah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: