RSS

>Mutiara Hikmah Ibnu ‘Athaillah

31 Jan

>Dari al-Hikam dan Latha’if al-Minan

Sikapi ujian-Nya dengan benar.

“Bisa jadi engkau memperoleh
tambahan kurnia dalam kesukaran,
apa yang dalam puasa dan solat
tidak engkau dapatkan.

Bisa jadi Allah memberimu maka menolakmu,
dan bisa jadi Dia menolakmu maka memberimu.

Penolakan dari Allah
terasa pedih bagimu
hanya kerana engkau tak mengerti
rahmat Allah di balik penolakan itu.

Ketika Allah membukakan pintu pengertian
bagimu tentang penolakan-Nya,
maka penolakan itu pun berubah
menjadi pemberian.”

Jangan bergantung pada amalan,
yang menyampingkan ketentuan-Nya.

“Salah satu tanda bergantung pada amal
iaitu berkurangnya harapan ketika mengalami kegagalan.”

Jangan berpatah harapan dari kembali pada-Nya,
hanya kerana kepahitan ujian dan dosa.
Kasih sayang-Nya mengatasi Kemurkaan-Nya, demikian
diungkap dalam suatu Hadis Qudsi.

“Apabila engkau berbuat dosa,
maka itu jangan menjadi alasan keputusasaanmu
dalam menggapai istiqamah dengan Tuhan,
kerana bisa jadi
itu adalah dosa terakhir yang ditakdirkan bagimu.

Tertundanya pemberian
setelah engkau mengulang-ulang permintaan,
janganlah membuatmu patah harapan.
Allah menjamin pengabulan doa
sesuai dengan apa yang Dia pilih buatmu,
bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri;
dan pada waktu yang Dia kehendaki,
bukan pada waktu yang engkau ingini.”

Sandarkan pada Allah yang
Maha Mengatur dan Menentukan.
Keyakinan hanya hadir apabila
kita akui kelemahan dan kehambaan kita
di hadapan-Nya.

“Apa pun bersandar pada kehendak Allah,
sementara kehendak Allah tidak bersandar pada apa pun.

Tiada suatu nafas berhembus darimu
melainkan di situ takdir Tuhan berlaku padamu.

Pinta tiada tertahan
selama engkau memohon kepada Tuhan.
Namun, pinta tiada mudah
bila pada dirimu sendiri engkau berserah.

Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan
adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan.”

Leburkan nafsu, tajamkan penglihatan mata hati.
Kenali (kehambaan) diri, kenali (keagungan) Dia.
Fahami letak duduk di alam ini,
tempat diri dalam perencanaan-Nya.
Letakkan sesuatu pada tempatnya, yakni bersikap adil.

“Pangkal segala maksiat, kelalaian,
dan syahwat adalah pengumbaran nafsu.
Dan pangkal segala ketaatan, kewaspadaan,
dan kebajikan  adalah pengekangan nafsu.
Bersahabat dengan orang bodoh yang
tidak memperturutkan hawa nafsunya
lebih baik bagimu daripada
bersahabat dengan orang pintar
yang memperturutkan hawa nafsunya.
Kepintaran apa lagi yang disandangkan
pada orang pintar yang selalu
memperturutkan hawa nafsunya?
Dan kebodohan apalagi
yang dapat disandangkan
pada orang bodoh
yang tidak memperturutkan hawa nafsunya?

Amal yang berasal dari hati penuh keikhlasan
tidak dapat dianggap sedikit,
dan amal yang berasal dari hati penuh ketamakan
tidak dapat dianggap banyak.

Jika engkau tahu bahawa syaitan
tidak pernah lupa kepadamu,
maka janganlah lupa
kepada Allah yang menguasaimu.

Usahamu mengetahui
beberapa kekurangan yang tersembunyi dalam dirimu
lebih baik daripada usahamu menyingkap
perkara ghaib yang tersembunyi darimu.”

Bantuan secara lahiriah hadir dengan persiapan lahiriah,
sedang pencerahan nurani hadir sesuai dengan
pemurnian wadah Cahaya Ilahi, yakni hati.

“Datangnya pertolongan Allah
adalah sesuai dengan persiapan,
sedangkan turunnya cahaya Allah
adalah sesuai dengan kejernihan relung batin.”

Syukur kepada Yang Maha Kekal,

“Orang yang tidak mengetahui nilai nikmat tatkala memperolehnya,
ia akan mengetahuinya tatkala nikmat sudah lepas darinya.

Siapa yang tidak mensyukuri nikmat bererti menginginkan hilangnya.
Dan siapa yang mensyukurinya berarti telah mengikatnya dengan kuat.

Jika engkau menginginkan kemuliaan yang tidak bisa sirna,
maka jangan banggakan kemuliaan yang bisa sirna.”

…dampingkan syukur beserta sabar, kerana:

“Sangatlah jahil orang yang menginginkan terjadinya sesuatu
yang tidak dikehendaki Allah pada suatu waktu.

Tak terjadinya sesuatu yang dijanjikan,
padahal waktunya telah tiba,
janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Allah itu.
Supaya, yang demikian tidak mengaburkan pandangan mata batinmu
dan memadamkan cahaya relung hatimu. “

Moga tergapai hikmah di balik ujian dan kurniaan.
Bagi yang menasihat dan dinasihati:

“Setiap ucapan yang meluncur pasti membawa
corak kalbu tempat asal perkataan itu.

Ungkapan-ungkapan bijak adalah makanan
bagi para pendengar yang memerlukan,
dan bahagianmu hanyalah
apa yang engkau (mampu) cicipi darinya.

Orang-orang memujimu
kerana apa yang mereka sangka ada pada dirimu.
Maka celalah dirimu
kerana apa yang engkau ketahui ada pada dirimu.

Apa yang tersimpan dalam keghaiban hati,
akan termanifestasi pada dunia nyata.

Berkat pemahaman, redha kepada Allah terwujud
Hanya melalui cahaya, pemahaman akan terwujud
Hanya melalui kedekatan, cahayamu akan memancar
Dan hanya berkat pertolongan, kedekatan akan tersingkap.”

Beberapa petikan nukilan Ibn ‘Athaillah,
Pengarang Latha’if al-Minan Rahasia Yang Maha Indah
untuk bukunya anda bisa download di http://www.4shared.com/file/NHZBnA-G/Rahasia_Yang_Maha_Indah.html

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 31, 2011 in Kata-kata Mutiara

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: