RSS

>Tengkorak yang sudah memutih

12 Feb

>

Diriwayatkan –wallahu ‘alam– bahwa Nabi Isa as pada suatu hari melewati sebuah lembah yang bernama Lembah Kebangkitan dan melihat sebuah tengkorak yang sudah memutih dari sebuah badan yang tulang-tulangnya sudah hancur membusuk. Isa mengagumi warna putih tengkorak ini. Orang ini mati tujuh puluh dua tahun sebelumnya. Isa berdoa: “Ya Allah Yang tidak bisa dilihat mata, Yang tidak bisa dijatuhkan oleh kekacauan, Yang tidak bisa digambarkan oleh siapapun, aku memohon kepadaMu agar tengkorak ini mengatakan kepadaku termasuk kaum mana dia.” Allah berfirman: “Ya Isa, berbicaralah kepada tengkorak ini, dan dia akan menjawab berkat kekuasaanKu, karena Aku berkuasa atas segala sesuatu.” Isa mengucapkan lafaz yang diwajibkan, mendekati tengkorak itu dan berkata: “Bismillahirrahmanirrahim.” Tengkorak itu menjawab dengan lugas: “Ya Ruhullah, engkau telah menyebut nama yang terbaik dari semua nama.” Isa berkata: “Aku memohon kepadamu demi Allah Yang Mahakuasa untuk mengatakan kepadaku di mana keindahan dan kebersihanmu, di mana daging dan lemakmu, di mana belulang dan nyawamu.” Tengkorak itu menjawab: “Ya Ruhullah, tanah telah mengubah keindahan dan kebersihanku. Daging dan lemakku telah dimakan cacing. Belulangku hancur membusuk. Jiwaku hari ini berada di dalam api neraka di dalam siksaan yang besar.” Isa berkata: “Aku bertanya kepadamu demi Allah Yang Mahakuasa termasuk kaum mana engkau ini?” Tengkorak itu menjawab: “Aku termasuk kaum yang memperoleh azab Allah di dunia ini.” Isa bertanya: “Mengapa azab Allah menimpa kalian?” Tengkorak itu menjawab: “Ya Ruhullah, Allah mengutus seorang nabi yang menyampaikan kebenaran kepada kami, tetapi kami menyebutnya pendusta. Dia memerintahkan kami untuk mematuhi Allah, tetapi kami tidak mematuhiNya. Maka kemudian Allah mengirimkan hujan dan petir kepada kami selama tujuh tahun tujuh bulan dan tujuh hari. Kemudian pada suatu hari turun kepada kami malaikat-malaikat penyiksa. Tiap malaikat mempunyai dua cambuk, yang satu terbuat dari besi, yang lainnya dari api. Malaikat-malaikat itu tidak berhenti untuk menarik nyawaku dari tiap anggota tubuhku dan dari tiap urat nadiku, hingga nyawaku sampai di tenggorokan. Dan pada saat itu malaikat maut mengulurkan tangannya mencabut nyawaku.” Isa berkata: “Aku mohon demi Allah Yang Mahakuasa, gambarkanlah malaikat maut itu!” Tengkorak itu menjawab: “Ruhullah, malaikat maut mempunyai satu tangan di barat dan satu lagi di timur. Kepalanya mencapai lapisan langit tertinggi, dan kakinya mencapai wilayah ketujuh dan terbawah dari bumi. Bumi sendiri terletak di antara dua lututnya, dan semua makhluk berada di antara matanya.” Tengkorak itu meneruskan: “Ya Nabiyullah, tidak sampai satu jam [kemudian] datang dua malaikat hitam pekat menghampiriku. Mereka berbicara seperti guruh yang menggelegar, dan mata mereka menyambar laksana petir. Mereka berambut ikal, dan merambah bumi dengan gigi-gigi taring mereka. Mereka berkata kepadaku: ‘Siapakah tuhanmu? Siapakah nabimu? Siapakah imammu?’ Ya Ruhullah, aku merasa takut dan berkata: ‘Aku tidak mempunyai tuhan, nabi, dan imam selain Allah.’ ‘Kamu bohong,’ kata mereka, ‘kamu adalah musuh Allah dan musuhmu sendiri.’ Kemudian mereka memukulku dengan sebuah tongkat besi dengan keras sekali hingga aku merasakan bagaimana tulang-tulangku remuk dan daging tubuhku terpental. Lalu mereka melemparkanku ke dasar neraka dan menyiksaku sesuai kehendak Allah. Ketika aku berada di dalam keadaan ini datang dua malaikat pencatat yang menulis semua amal para makhluk dunia ini; dan mereka berkata kepadaku: ‘Hai musuh Allah, ikutlah kami mengunjungi tempat penghuni surga.’ Aku pun mengikuti mereka ke pintu surga yang pertama, dan menyaksikan bahwa surga mempunyai delapan pintu. Surga itu terbuat dari bebatuan yang sebagiannya adalah emas dan perak. Ubinnya terdiri dari muska. Rumputnya adalah za’faran. Kerikilnya adalah mutiara dan rubin. Sungai-sungainya berisi susu, air, dan madu. Penghuninya adalah remaja-remaja muda seumur yang mempesona dan saleh. Ya Ruhullah, aku benar-benar terpesona. Kemudian kedua pencatat itu berkata kepadaku: ‘Hai musuh Allah dan musuhmu sendiri, di kehidupan duniamu kau tidak beramal saleh untuk bisa menikmati semua ini. Sekarang ikutlah kami pergi ke tempat penghuni neraka.’ Akupun pergi bersama malaikat pencatat itu ke pintu neraka pertama, di mana ular-ular dan kalajengking mendesis-desis; dan akupun bertanya: ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk orang yang memakan harta anak yatim dengan bathil.’ Aku pergi bersama mereka ke pintu kedua, di mana para lelaki digantung pada janggut mereka, dan anjing-anjing menjilati darah dan nanah dari tangan mereka. Aku berkata ke malaikat pencatat: ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk orang yang meminum khamr dan memakan makanan haram di kehidupan dunia.’ Aku pergi bersama mereka ke pintu ketiga dan melihat bagaimana api menyembur masuk ke mulut orang-orang dan keluar dari punggung mereka. ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk orang yang memfitnah wanita baik-baik di kehidupan dunianya.’ Akupun pergi bersama mereka ke pintu yang keempat dan melihat wanita-wanita yang digantung pada lidah mereka, dan api keluar dari mulut mereka. ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk orang yang tidak mendirikan shalat.’ Aku pergi bersama mereka ke pintu yang kelima dan melihat wanita-wanita yang digantung pada rambut mereka, dan api menyembur ke kepala mereka. ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk mereka yang bersolek untuk orang lain selain suaminya.’ Akupun pergi bersama mereka ke pintu yang keenam dan melihat wanita-wanita yang digantung pada rambut dan lidah mereka dan api menyembur ke kepala mereka. ‘Disediakan untuk siapakah siksaan ini?’ ‘Untukmu,’ jawab mereka, ‘dan untuk kaum pendosa yang sesat di dunia.’ Aku pergi bersama mereka ke pintu yang ketujuh dan melihat laki-laki yang di bawahnya terdapat sebuah sumur yang disebut Sumur Falaq. Aku dilemparkan ke sana, ya Ruhullah. Di dalamnya aku mendapat siksaan yang keras dan menjadi saksi atas banyak sekali hal-hal yang mengerikan. Kemudian Isa berkata: “Hai tengkorak, kalau kau mau, mintalah kepadaku sesuatu yang kau inginkan, insya Allah.” Tengkorak itu menjawab: “Ya Ruhullah, mintakanlah agar Allah mengembalikan kehidupan duniaku.” Isa berdoa kepada Allah yang kemudian menghidupkan kembali tengkorak itu. Dengan qadrat Allah Yang Mahakuasa wanita itu hidup kembali dan bertemu dengan Isa. Kemudian dia beribadah bersama Isa dua belas tahun lamanya, sehingga kepastian –artinya: kematian– menemuinya. Dia meninggal sebagai mu’minah yang sebenarnya, dan Allah dalam kemurahanNya memberikan tempat baginya di antara para penghuni surga

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 12, 2011 in Amar ma'ruf, Da'wah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: