RSS

>Merangkai KATA, Menyulam RASA, Mengukir MAKNA

18 Mar

>-Cerita-cerita Air Mata-

Ada yang bertanya,

Dari manakah datangnya duka?
Dari apa air mata duka tercipta?

Tiba-tiba…

Ada titisan-titisan air mata
Yang membawa cerita

Tentang duka yang membuat suka lebih bermakna

Tentang derita yang jadi gurunya jiwa

Tentang air mata sebagai bahasanya cinta

Ke sanakah air mata cinta membawa semua manusia?

-Cahaya-cahaya Cinta-

Pagi itu berkunjunglah pangeran cahaya

Ia membawa lentera
Sekaligus berita

-Tentang Cinta-

Ada gerhana untuk semua

Ada surya yang menyinari semua

Ada rembulan yang mengintip semua

Ada pohon yang meneduhi semua

Ada rumput yang menghijaukan semua

Semua memang untuk semua

Bukankah itu yang membuatnya bernama Cinta?

Cinta dari Yang Maha Sempurna,

Allah Azza wa Jalla.

-Laba-laba cinta-

Ada laba-laba

Sedang membangun rumah cinta
Ia melukis dan mengukir makna

Melingkar-lingkar ia menyuarakan jiwa

Sambung menyambung merajut cinta
Berputar-putar ditemani jiwanya cinta

Ketika ditanya kenapa ia tidak bersuara

Ia hanya diam dalam sepi

Tidur dalam sunyi

Mimpi tentang kebahagiaan abadi

Di pusat lingkaran Yang Maha Suci

-Suara-suara Langit-

Ada yang menyebutnya dengan selimut bumi

Ada yang mengiranya sebagai batasnya sunyi

Jarang ada yang bertanya,

Pernahkah langit bersuara?

Kenapa bintang tergantung di sana?

Kenapa rembulan tidur pulas di sana?
Kenapa sang surya hanya tinggal di sana?

Hanya ada jawaban pasti

Dari Kalam Ilahi

Itulah Yang Maha Tinggi

-Puji bagi Sang Ilahi-

Di ufuk timur yang berseri

Engkau selalu menepati janji

Untuk senantiasa berbagi

Sekaligus melindungi

Tentang cahaya yang menyinari

Genta yang suci

Hidup yang penuh arti

Dan cinta yang Engkau beri

Bersama langit yang tinggi

Bersama laut yang rendah hati

Engkau taburkan sari-sari hati

-Melukis yang Manis-

Di pinggir perenungan duduk seorang pelukis
Melukis, melukis dan melukis
Ketika ditanya apa yang dilukis
Ia menyebut seorang gadis manis

Berjilbab dan bertudung hijau muda

Tersenyum manis seperti bunga kamboja

Tatapannya menyerupai bulan purnama

Kelembutannya seperti banyi yang baru lahir

Ketika ditanya siapa namanya

Lisannya hanya diam percuma
Hatinya menyebut nama yang indah maknanya

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2011 in Cinta, Puisi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: